SUARA ITU, KAPAN AKAN TERDENGAR LAGI

Lirih dari dalam hati yang tak pernah terjawab akan menjadi suatu keajaiban.
Ada jenis sepi yang tidak bisa diusir oleh keramaian pasar atau bisingnya jalanan kota. Sepi itu bertakhta di dada Rahman, seorang ayah berusia 61 tahun, yang kini menghabiskan hari-harinya dalam sunyi yang teramat pekat. Rumah tua peninggalan orang tuanya kini terasa terlalu luas, terlalu dingin, dan terlalu asing. Semua itu terjadi sejak sebuah kecelakaan hebat merenggut suara tawa, derap langkah kaki, dan celoteh riang dari Anisa, putri kecilnya yang saat itu baru menginjak usia lima tahun.
Anisa selamat dari tragedi itu, namun benturan keras di kepalanya meninggalkan trauma psikologis yang mendalam. Sejak hari kelam itu, Anisa mengalami selective mutism—sebuah kondisi yang mengunci rapat-rapat suaranya dari dunia luar. Sudah empat tahun berlalu, dan rumah itu tidak pernah lagi mendengar gema suara Anisa. Putri kecil yang dulunya gemar menyanyi dan memanggil "Ayah!" dengan nada melengking setiap kali Rahman pulang bekerja, kini menjelma menjadi sosok yang teramat diam. Anisa hanya berkomunikasi lewat tatapan mata yang rapuh, anggukan kecil, atau tarikan lembut pada ujung baju sang ayah.
Setiap malam, lepas ibadah sepertiga malam, Rahman selalu duduk di tepi tempat tidur Anisa yang sedang terlelap. Dipandangnya wajah suci putrinya yang tampak begitu tenang dalam mimpi. Di saat-saat seperti itulah, hati Rahman luluh, hancur berkeping-keping oleh rasa bersalah yang tak berkesudahan sebagai seorang kepala keluarga.
Dengan jemari yang gemetar karena usia dan kesedihan, Rahman mengusap rambut Anisa. Air matanya menetes tanpa suara, membasahi bantal. "Ya Allah," bisiknya dalam hati, sebuah doa yang tak pernah putus ia layangkan ke langit, "Suara itu... kapan akan terdengar lagi? Aku merindukan sebutan 'Ayah' dari bibir kecilnya. Aku merindukan tawa renyahnya yang dulu selalu menyembuhkan segala lelahku. Jika harus menukar sisa umurku agar ia bisa kembali bicara, hamba ikhlas, ya Allah..."
Pengharapan Rahman bukanlah sebuah kepasrahan yang pasif. Setiap hari, dengan penuh kesabaran yang menyayat hati, ia mengajak Anisa mengobrol. Rahman bercerita tentang burung-burung yang hinggap di pohon mangga depan rumah, tentang awan yang menyerupai bentuk kelinci, atau tentang masa kecil Anisa yang indah. Rahman tidak pernah memaksa Anisa menjawab. Ia hanya ingin putrinya tahu bahwa dunia di luar sana, dan terutama ayahnya, selalu siap mendengarkan kapan pun ia siap untuk bersuara kembali.
Hingga pada suatu sore, langit kota sedang meredup ditutupi awan mendung yang tebal. Guntur menggelegar tiba-tiba, merontokkan keheningan sore itu. Listrik di rumah mereka mendadak padam, seketika mengubah ruangan menjadi gelap gulita.
Anisa yang memilik trauma mendalam terhadap suara keras dan kegelapan, langsung tersentak kaget dari duduknya. Ia gemetar hebat, meringkuk di sudut kursi ruang tamu sambil menutup kedua telinganya rapat-rapat. Air matanya tumpah dalam diam, dadanya naik turun karena sesak napas yang menderu.
Melihat hal itu, hati Rahman seperti diiris-iris. Tanpa memedulikan kegelapan, ia meraba-raba jalan, berlari menerjang meja dan kursi hingga kakinya tersandung demi bisa merengkuh tubuh putrinya. Begitu berhasil mencapai sudut kursi, Rahman langsung mendekap Anisa dengan teramat erat. Ia menyalurkan seluruh kehangatan, cinta, dan perlindungan yang ia miliki ke tubuh kecil yang sedang menggigil ketakutan itu.
"Jangan takut, Nak. Ayah di sini. Ayah selalu di sini. Tidak akan ada yang menyakitimu," bisik Rahman dengan suara yang parau, bergetar menahan tangis yang ikut pecah. Ia mengecup puncak kepala Anisa berulang kali, mendekapnya seolah tak ingin membiarkan satu pun ketakutan dunia menyentuh putrinya lagi.
Di dalam keheningan malam yang gelap, di tengah pelukan hangat yang begitu tulus dari seorang ayah yang hancur namun tetap bertahan, sesuatu yang membeku di dalam dada Anisa perlahan mencair. Rasa aman yang teramat besar meruntuhkan dinding trauma yang selama empat tahun ini mengunci jiwanya.
Di sela Isak tangisnya yang mulai mereda, sebuah getaran halus muncul dari tenggorokan kecil itu. Sebuah suara yang teramat lirih, tipis bagai helai benang, namun terdengar begitu megah di telinga Rahman, akhirnya memecah kesunyian.
"A... yaaaah..."
Rahman tertegun. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia melonggarkan pelukannya sedikit, menatap lumat-lumat wajah putrinya di kegelapan yang samar.
"Ayah..." kali ini suara itu terdengar lebih jelas, disusul oleh tangan kecil Anisa yang balik memeluk leher sang ayah dengan erat. "Anisa... takut."
Mendengar kata-kata itu, pertahanan batin Rahman runtuh seutuhnya. Air matanya mengalir deras, namun kali ini bukan karena duka, melainkan karena rasa syukur yang membubung tinggi hingga ke langit ke tujuh. Suara yang selama empat tahun ini ia tunggu dalam derita dan doa, suara yang selalu ia tanyakan kapan akan terdengar lagi, kini telah kembali pulang ke pelukannya.
Malam itu, di dalam rumah tua yang gelap, Rahman tahu bahwa perjuangan mereka belum usai. Namun, satu hal yang pasti: harapan yang dirawat dengan cinta yang tulus dan air mata yang luluh, tidak akan pernah berakhir sia-sia. Suara itu telah kembali, dan rumah mereka tidak akan pernah sepi lagi.
Sama-sama, sahabatku! Cerita ini dibuat dengan penuh perasaan untuk menggambarkan ketulusan hati seorang ayah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KHILAF MUNGKIN KATA TERINDAH

SURAT YANG SALAH ALAMAT DAN SEPOTONG HARAPAN DI TOKO ROTI

SURGA YANG TAK NAMPAK