Postingan

RODA RODA KEYAKINAN

Lampu merah di persimpangan jalan kota itu baru saja menyala. Di bawah terik matahari siang yang menyengat, Pak Marno menyapu keringat di dahinya dengan kaos oblongnya yang kusam. Di usianya yang menapak 52 tahun, otot-otot kakinya masih setia mengayuh pedal becak besi tua—sahabat karibnya selama lebih dari 10 tahun merantau di kota orang. Pak Marno meninggalkan kampung halamannya di sebuah desa kecil belasan tahun lalu. Tanpa ijazah tinggi atau keahlian khusus, becak adalah satu-satunya tumpuan harapan untuk mengirimkan sedikit rezeki bagi istri dan anak-anaknya di desa. Ketika Kota Tak Selalu Ramai Zaman telah banyak berubah. Jalanan kota yang dulu dipenuhi becak, kini telah disesaki oleh sepeda motor, mobil, dan moda transportasi daring yang jauh lebih cepat. Tak jarang, Pak Marno harus duduk memandangi lalu lintas seharian penuh tanpa mendapatkan satu pun penumpang. Teman-temannya sesama pengayuh becak banyak yang menyerah, memilih pulang kampung atau berganti profesi. Namun, Pak M...

PELUH IBU

Suara gesekan busa sabun dan papan kayu tua berkumandang sejak fajar menyingsing di sudut kamar mandi Bu Salamah. Tangan-tangannya yang keriput dan pucat karena terlalu lama terendam air tak pernah berhenti mengucek lembar demi lembar pakaian milik tetangganya. Sejak Pak Harun, suaminya, meninggal dunia dua tahun lalu akibat sakit keras, Bu Salamah mendadak menjadi tunggal penopang hidup. Tak ada warisan harta, tak ada tabungan tersisa—yang ditinggalkan suaminya hanyalah dua orang buah hati yang masih sangat kecil: Rizky (7 tahun) dan Aisyah (4 tahun).   "Ibu, perut Aisyah bunyi..." lapor si kecil suatu pagi sambil memegangi perutnya.   Mendengar ucapan itu, hati Bu Salamah serasa diiris sembilu. Namun, ia menyapu air matanya dengan ujung kain lusuhnya dan tersenyum lembut. "Sabar ya sayang, sebentar lagi Ibu antar pakaian Bu RT. Nanti kita beli sarapan nasi uduk," bisiknya sambil memeluk erat kedua anaknya. Perjuangan Tanpa Keluh Kesah Setiap hari, Bu Salamah mengu...

SEPATU BEKAS DISUDUT ETALASE

Matahari baru saja terbenam di ufuk barat, meninggalkan warna jingga keunguan di langit kota. Di tepi jalan yang riuh oleh deru kendaraan, terdapat sebuah toko sepatu megah dengan lampu-lampu kristal yang berkilauan. Di luar kaca etalase toko yang dingin itu, berdiri seorang bocah laki-laki berusia sembilan tahun bernama Aji. Tubuhnya kurus, mengenakan kaus oblong yang sudah menipis dan celana kain yang kebesaran. Di tangannya, ia memegang erat sepasang sandal jepit yang tali kanannya sudah disambung dengan peniti. Mata Aji tak berkedip menatap sepasang sepatu sekolah berwarna hitam polos di balik kaca. Sepatu itu nampak begitu kokoh dan bersih. "Aji, ayo pulang, Nak. Nanti ibumu mencari," panggil Pak Slamet, ayahnya. Pak Slamet berjalan pincang dengan bantuan tongkat kayu usang. Kakinya yang kiri tak lagi sempurna sejak kecelakaan kerja beberapa tahun lalu. Kini, ia hanya mengandalkan pendapatan dari memungut botol-botol plastik bekas dan menjual kerupuk keliling dengan gero...

NASI DINGIN DAN PINTU RUMAH YANG TERKETUK

Lampu tempel di dinding bilik kontrakan kecil itu berkedip pelan, seolah-olah lelah menahan napas malam. Di ruangan berukuran tiga kali empat meter itu, tidak ada perabotan mewah. Hanya ada satu lemari plastik yang salah satu pintunya sudah terlepas, serta kasur tipis yang telah menipis dimakan waktu. Aris terduduk di sudut ruangan. Di tangannya, ada selembar kertas lusuh bertuliskan angka-angka rupiah—rincian sewa rumah yang sudah menunggak dua bulan. "Rif," suara lembut Nur, istrinya, memecah hening malam. Nur datang membawa piring seng berisi nasi putih yang tersisa dari kemarin sore dan separuh tempe goreng dingin. "Makan dulu, Kang. Cuma ada ini. Anak-anak sudah tidur dari jam delapan tadi." Aris memandang wajah istrinya yang tampak jauh lebih tua dari usianya. Ada lingkaran hitam tebal di bawah mata perempuan itu. Aris tahu, istrinya menahan lapar seharian agar dua anak mereka yang masih kecil bisa makan cukup siang tadi. "Kamu sudah makan, Nur?" tan...

PLUIT DI UJUNG SENJA

Suara derit besi rel yang bergeser selalu menjadi pertanda bagi Pak Kusno. Di sebuah pos penjagaan kecil berukuran dua kali dua meter di pinggiran kota, ia setia berdiri. Seragam jingganya yang sudah memudar tak mengurangi ketegasan lambaian bendera merahnya setiap kali kereta rel listrik atau kereta api jarak jauh hendak melintas. Bagi sebagian orang, pekerjaan Pak Kusno tampak sederhana: memutar engkol pintu perlintasan, mengibarkan bendera, dan menunggu kereta lewat. Namun bagi Pak Kusno, setiap detik di pos itu adalah taruhan nyawa ribuan penumpang dan para pengguna jalan. Lebih dari itu, setiap dentang genta perlintasan adalah helai-helai harapan demi keluarganya di rumah. Hari itu, gerimis turun sejak pagi. Angin dingin menusuk hingga ke tulang, tetapi Pak Kusno tak beranjak dari tempatnya. Dari kantong kemejanya, ia mengeluarkan sebuah foto berukuran kecil yang dilaminasi seadanya. Foto Bu Lastri, istrinya yang sabar, dan Laras, putri tunggalnya yang kini duduk di bangku SMA. La...

IKHLAS BERBUAH MANIS

    Sepiring Harapan di Warung Kejujuran Di sebuah sudut kota yang padat, hiduplah seorang wanita lansia bernama Mak Sumi. Setelah suaminya wafat, ia menghidupi diri dengan membuka warung makan kecil di depan rumahnya. Menu yang disajikan sangat sederhana: nasi, tempe orek, sayur lodeh, dan sambal. Di saat warung lain menaikkan harga karena inflasi, Mak Sumi justru mempertahankan harga yang sangat murah—bahkan sering kali menggratiskan makanan bagi pemulung atau anak jalanan yang melintas. Tetangga sekitar sering mengingatkan, "Mak, kalau jualan begini terus, bagaimana bisa untung? Nanti malah rugi." Mak Sumi hanya tersenyum teduh dan menjawab, "Niat saya di usia tua ini bukan lagi menumpuk harta, Nak. Asalkan perut mereka terisi dan saya masih bisa membeli beras untuk besok, itu sudah lebih dari cukup. Rezeki itu bukan cuma uang, tapi melihat mereka tersenyum setelah seharian kepanasan mencari nafkah." Suatu hari, musibah menimpa. Warung kayu Mak Sumi roboh akibat ...

HAKIKAT REZEKI

INTISARI KEHIDUPAN   Sepeda Tua Kakek dan Dompet Digital Kita Pukul tiga dini hari, saat dunia masih dibungkus selimut malam yang dingin, sebuah ketukan halus di pintu dapur selalu menjadi penanda dimulainya hari bagi Kakek. Tanpa keluhan, ia membelah pekatnya subuh. Di atas sepeda ontel tuanya, ada beban berat yang harus dipikul: tanggungan berisi kelapa matang dan ikan segar hasil tangkapan nelayan semalam, serta beberapa tampah kue basah buatan Nenek yang masih hangat berasap. Kakek tidak punya jam tangan pintar untuk menghitung langkah kaki, tidak punya kendaraan bermotor untuk mempercepat jarak. Ia hanya memiliki sepasang kaki yang kokoh karena terbiasa mengayuh, dan sekeping hati yang lapang. Setiap kayuhan sepedanya menyanyikan lagu tentang keikhlasan. Kakek berjalan keliling kampung, menyapa setiap tetangga dengan senyum tulus yang terukir di wajahnya yang mulai berkerut. Ketika matahari tepat berada di atas kepala, Kakek sudah melangkah pulang ke rumah. Tubuhnya dibas...