SEPATU BEKAS DISUDUT ETALASE



Matahari baru saja terbenam di ufuk barat, meninggalkan warna jingga keunguan di langit kota. Di tepi jalan yang riuh oleh deru kendaraan, terdapat sebuah toko sepatu megah dengan lampu-lampu kristal yang berkilauan.
Di luar kaca etalase toko yang dingin itu, berdiri seorang bocah laki-laki berusia sembilan tahun bernama Aji. Tubuhnya kurus, mengenakan kaus oblong yang sudah menipis dan celana kain yang kebesaran. Di tangannya, ia memegang erat sepasang sandal jepit yang tali kanannya sudah disambung dengan peniti.
Mata Aji tak berkedip menatap sepasang sepatu sekolah berwarna hitam polos di balik kaca. Sepatu itu nampak begitu kokoh dan bersih.
"Aji, ayo pulang, Nak. Nanti ibumu mencari," panggil Pak Slamet, ayahnya.
Pak Slamet berjalan pincang dengan bantuan tongkat kayu usang. Kakinya yang kiri tak lagi sempurna sejak kecelakaan kerja beberapa tahun lalu. Kini, ia hanya mengandalkan pendapatan dari memungut botol-botol plastik bekas dan menjual kerupuk keliling dengan gerobak kecilnya.
"Bapak..." bisik Aji pelan tanpa mengalihkan pandangannya. "Minggu depan Aji ikut ujian. Kata Ibu Guru, murid yang sandalnya putus tidak boleh ikut upacara dan ujian di aula. Apakah... apakah Aji bisa punya sepatu seperti itu?"
Pak Slamet menghentikan langkahnya. Tenggorokannya terasa tersumbat. Ia mendekat, memandang label harga yang tertera kecil di samping sepatu itu: Rp250.000.
Bagi orang lain, angka itu mungkin hanya seharga satu kali makan di restoran. Namun bagi Pak Slamet, angka itu adalah hasil keringatnya memungut barang bekas selama hampir satu bulan penuh—uang yang seharusnya digunakan untuk membeli beras dan obat jantung untuk istrinya yang terbaring sakit di rumah.
Pak Slamet berlutut di samping anaknya. Dengan tangannya yang kasar dan penuh kapalan, ia mengusap kepala Aji.
"Pasti, Nak. Bapak janji, sebelum hari ujian tiba, Aji akan punya sepatu hitam," ujar Pak Slamet dengan senyum terbias kehangatan, meski hatinya menjerit menahan pedih.
Cinta Seorang Ayah yang Tak Bersuara
Sejak malam itu, Pak Slamet bekerja dua kali lebih keras. Jika biasanya ia selesai memulung saat azan Magrib, kini ia baru kembali ke rumah saat tengah malam. Di bawah guyuran hujan malam dan hawa dingin yang menusuk tulang, ia mendorong gerobaknya lebih jauh, menyusuri sudut-sudut kota yang sepi demi mencari rupiah demi rupiah.
Istrinya, Bu Marni, sering menangis diam-diam di atas tempat tidur saat melihat suaminya pulang dengan baju basah kuyup dan tangan gemetar karena kelelahan.
"Kang, jangan dipaksa... Obatku bisa ditunda bulan depan. Yang penting Kang Slamet tidak sakit," bisik Bu Marni penuh rasa bersalah.
Pak Slamet menggeleng sambil tersenyum tulus. "Jangan bicara begitu, Bu. Obatmu harus diminum. Tapi masa depan Aji juga tidak boleh terhenti hanya karena sepasang sepatu. Biar Kang Slamet yang berjuang."
Empat hari berlalu. Uang yang terkumpul di dalam kaleng biskuit tua milik Pak Slamet baru mencapai seratus delapan puluh ribu rupiah. Tinggal dua hari lagi ujian sekolah Aji dimulai.
Hari kelima, musibah datang. Saat menyeberang jalanan licin di bawah hujan deras, gerobak kerupuk Pak Slamet tersenggol oleh pengendara sepeda motor yang melaju kencang. Gerobak reotnya terbalik, kerupuk dagangannya hancur berhamburan di atas genangan air kotor, dan tongkat kayunya patah.
Pak Slamet tersungkur di aspal. Bukan rasa sakit di lututnya yang membuat air matanya menetes deras, melainkan bayangan kaleng biskuit dan harapan anaknya yang seolah ikut hancur di atas jalanan yang basah.
Dengan merayap, ia mengumpulkan sisa-sisa botol plastik yang tak seberapa. Pengendara motor itu sudah pergi tanpa rasa tanggung jawab. Pak Slamet terduduk di pinggir trotoar, menangis sesenggukan di balik suara petir yang bersahut-sahutan.
Hadiah dari Sebuah Pengorbanan
Malam sebelum hari ujian, Aji duduk di samping ayahnya yang terbaring lemah karena demam tinggi. Kaki Pak Slamet dibalut kain seadanya akibat terkilir.
Aji mengusap dahi ayahnya yang panas dengan kain basah. "Bapak, maafkan Aji... Aji tidak usah punya sepatu baru. Aji bisa pakai sandal ini lagi. Nanti Aji bilang ke Ibu Guru, kaki Aji sakit jadi tidak bisa pakai sepatu."
Pak Slamet memandang anak tunggalnya dengan mata yang berkaca-kaca. Dari bawah bantalnya, ia menarik sebuah kantong plastik hitam yang agak kusam dan menyerahkannya kepada Aji.
"Buka, Nak..." suara Pak Slamet terdengar parau dan serak.
Dengan tangan gemetar, Aji membuka kantong plastik itu. Di dalamnya, terdapat sepasang sepatu kain berwarna hitam. Sepatu itu bukan sepatu baru dari toko megah berlangit-langit kristal itu. Sepatu itu adalah sepatu bekas yang bagian pinggirnya ada bekas jahitan tangan
Jahitan rapi yang dibuat sendiri oleh Pak Slamet malam tadi menggunakan benang nilon yang tebal.
Pak Slamet membeli sepatu bekas itu di pasar kilat dengan sisa uangnya, lalu mencucinya hingga bersih dan menjahit bagian solnya yang lepas agar kuat dipakai Aji.
"Maafkan Bapak ya, Aji... Bapak belum bisa belikan sepatu baru dari toko besar itu. Tapi sepatu ini kuat, Nak. Bapak sudah jahit rapat-rapat. Sepatu ini tidak akan putus saat Aji pakai ujian besok," kata Pak Slamet sambil menahan tangisnya.
Aji memeluk sepatu bekas itu erat-erat di dadanya. Air matanya menetes membasahi kain sepatu yang masih sedikit lembap. Aji lalu berhambur memeluk ayahnya dengan tangisan yang tak lagi bisa ditahan.
"Ini sepatu paling indah di dunia, Pak... Aji tidak butuh sepatu toko. Sepatu buatan Bapak ini jauh lebih berharga," bisik Aji di telinga ayahnya.
Langkah Pertama Menuju Masa Depan
Keesokan harinya, matahari terbit dengan cerah. Aji berjalan menuju sekolah dengan langkah kaki yang mantap. Di kakinya, terpasang sepatu hitam bekas jaitan ayahnya. Sepatu itu memang tidak berkilau, tetapi di setiap stik jahitan benang nilonnya, terukir doa, tetesan keringat, dan cinta tanpa batas dari seorang ayah.
Di aula sekolah, Aji mengerjakan lembar ujiannya dengan penuh konsentrasi dan rasa tekun yang membara. Ia berjanji dalam hati, setiap langkah yang ia tempuh dengan sepatu ini akan ia persembahkan untuk memuliakan orang tuanya.
Bertahun-tahun kemudian, Aji tumbuh menjadi seorang pemuda yang sukses dan berhasil menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang tertinggi. Di lemari kaca kantor mewahnya, tidak ada pajangan piala atau barang mahal—hanya ada sepasang sepatu hitam bekas berpola jahitan tangan yang sudah kusam, disimpan dengan rapi di dalam kotak kaca.
Bagi Aji, sepatu itu adalah pengingat abadi: Bahwa rezeki dan kemewahan materi bisa dicari, namun kasih sayang dan pengorbanan tulus orang tua adalah kemewahan sejati yang tak akan pernah bisa ternilai dengan uang.
Pesan Moral untuk Pembaca
> Jangan pernah menilai seseorang dari apa yang melekat di tubuhnya, karena kita tidak pernah tahu perjuangan dan linangan air mata apa yang ada di balik hal-hal sederhana yang mereka miliki. Dan bagi siapa saja yang masih memiliki orang tua, hargailah setiap keringat mereka, karena tidak ada kasih sayang yang paling murni di dunia ini selain pengorbanan seorang ayah dan ibu demi senyum anaknya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KHILAF MUNGKIN KATA TERINDAH

SURAT YANG SALAH ALAMAT DAN SEPOTONG HARAPAN DI TOKO ROTI

SURGA YANG TAK NAMPAK