PENGAMEN BUTA DENGAN MIX MENGUSIK PERASAAN

Bukan Suara yang Didengar, tapi Panggilan Hati.

Dunia di mata Bahar adalah sebuah kegelapan yang abadi. Pria berusia 42 tahun itu tidak pernah tahu bagaimana indahnya warna pelangi, atau bagaimana rupa wajah orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya. Sejak lahir, dunianya gelap gulita. Namun, di dalam dada pria tunanetra ini, ada sebuah mesin kehidupan yang tidak pernah mati: harga diri dan panggilan hati untuk tidak menjadi beban bagi orang lain.
Setiap hari, ketika matahari mulai membakar aspal jalanan kota, Bahar sudah berdiri di lampu merah perempatan jalan utama. Tangan kanannya memegang sebuah tongkat pemandu, sementara tangan kirinya menggenggam sebuah mikrofon (mik) murah yang tersambung ke speaker kecil yang digendong di punggungnya.
Bahar bukan penyanyi dengan suara emas yang merdu. Suaranya parau, terkadang fals karena napasnya yang terengah-engah menahan terik matahari dan asap knalpot. Namun, ketika mik itu mendekat ke bibirnya, yang keluar bukan sekadar suara yang didengar, melainkan sebuah panggilan hati. Setiap bait lagu tua yang ia nyanyikan mengalirkan getaran rasa sakit, ketabahan, dan pengharapan yang teramat dalam. Suara miknya yang bergema di antara deru mesin kendaraan seolah mengusik perasaan siapa saja yang mendengarnya—memaksa para pengendara untuk menengok dan merenung.
Di sudut perempatan yang sama, hampir setiap hari duduk seorang pemuda berfisik segar bugar bernama Rian. Rian adalah gambaran dari jiwa yang mati sebelum waktunya. Ia kehilangan pekerjaan beberapa bulan lalu, dan sejak saat itu, ia memilih berdiam diri, merutuki nasib, dan mengemis belas kasihan orang tuanya yang miskin. Rian sering duduk di sana hanya untuk melamun, memelihara rasa malas, dan menyalahkan dunia atas kemalangannya.
Suatu sore, langit mendadak menumpahkan hujan yang teramat lebat. Para pengendara motor berebut berteduh, dan jalanan menjadi kacau. Rian segera berlari mencari tempat kering di emperan toko. Namun, pandangannya tertuju pada Bahar.
Bahar, dengan segala keterbatasannya, tidak tahu arah jalan pulang saat badai datang tiba-tiba. Tongkatnya tergelincir di got yang meluap. Tubuhnya yang kurus basah kuyup dikepung air hujan. Mik di tangannya mulai mengeluarkan suara mendengung akibat kemasukan air, namun Bahar tetap memeluk speaker di punggungnya agar alat kerjanya itu tidak rusak.
Dalam keadaan menggigil hebat dan wajah yang pucat pasi, Bahar mencoba berdiri. Alih-alih menangis atau meminta tolong dengan histeris, tangan Bahar kembali mendekatkan mik yang basah itu ke bibirnya. Dengan suara yang gemetar menahan dingin yang menyayat tulang, ia kembali bernyanyi. Ia menyanyikan lagu tentang rasa syukur kepada Tuhan atas napas yang masih diberikan hari itu.
Rian yang menyaksikan hal itu dari kejauhan merasa hatinya seperti disayat-sayat oleh sembilu yang teramat tajam. Dadanya sesak, jiwanya terguncang hebat.
“Lihatlah lelaki itu,” bisik hati kecil Rian dengan sangat perih. “Dia tidak bisa melihat dunia. Dunia tidak pernah adil kepadanya. Hari ini dia basah kuyup, kedinginan, dan terancam kelaparan. Tapi dia tidak mengemis dengan tangan kosong. Dia menggunakan sisa napasnya untuk berusaha, mengetuk pintu rezeki dengan kehormatan. Sementara aku? Aku memiliki mata yang utuh untuk melihat indahnya dunia, memiliki kaki yang kuat untuk berlari, tapi aku memilih diam dan mati dalam kemalasan.”
Air mata Rian tumpah, menyatu dengan air hujan yang membasahi pipinya. Rasa malu yang teramat besar menjalar ke seluruh tubuhnya. Rian berlari menerobos hujan, memeluk tubuh Bahar yang menggigil, dan membantunya berteduh.
Sambil menyodorkan sepotong roti kecil miliknya, Rian bertanya dengan suara serak, "Pak... kenapa tidak menyerah saja? Kenapa tidak duduk diam di masjid atau di rumah menunggu bantuan orang?"
Bahar tersenyum, matanya yang buta menatap ke arah suara Rian. Ia mengusap mik basahnya dengan ujung baju yang kering.
"Mas," ucap Bahar lembut namun sarat akan kekuatan, "Tuhan mengambil penglihatan saya, tapi Tuhan tidak mengambil tanggung jawab saya sebagai manusia. Selama jantung ini masih berdetak, diam tanpa berusaha adalah bentuk pengkhianatan kepada kehidupan. Saya tidak mencari kekayaan, Mas. Saya hanya ingin saat saya mati nanti, saya menghadap Tuhan dengan tangan yang kasar karena bekerja, bukan tangan yang bersih karena meminta-minta."
Kata-kata itu menjadi pukulan batin terakhir yang meruntuhkan tembok kemalasan di dalam diri Rian.
Sejak sore berdarah itu—sore di mana perasaannya diusik oleh suara mik seorang pengamen buta—kehidupan Rian berubah total. Ia tidak lagi menjadi pemuda yang diam. Rian mulai mengambil pekerjaan apa saja yang ada: menjadi kuli angkut pasar, tukang kebun, hingga akhirnya setahun kemudian ia berhasil membuka usaha tambal ban dan bengkel kecil miliknya sendiri.
Setiap kali rasa lelah atau keinginan untuk menyerah datang menggoda, Rian akan selalu mengingat suara mik parau di tengah hujan lebat itu. Kisah Bahar telah menjadi panutan sejati bagi Rian dan orang-orang di sekitarnya—sebuah pembuktian hidup bahwa keterbatasan fisik bukanlah alasan untuk berhenti, dan kelimpahan fisik sama sekali tidak berguna jika jiwa memilih untuk diam dan mati dalam keputusasaan.
Kisah ini sengaja dibuat dengan konflik batin yang sangat kuat agar bisa menjadi tamparan bagi mereka yang enggan berusaha.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KHILAF MUNGKIN KATA TERINDAH

SURAT YANG SALAH ALAMAT DAN SEPOTONG HARAPAN DI TOKO ROTI

SURGA YANG TAK NAMPAK