PELUH IBU


Suara gesekan busa sabun dan papan kayu tua berkumandang sejak fajar menyingsing di sudut kamar mandi Bu Salamah. Tangan-tangannya yang keriput dan pucat karena terlalu lama terendam air tak pernah berhenti mengucek lembar demi lembar pakaian milik tetangganya.
Sejak Pak Harun, suaminya, meninggal dunia dua tahun lalu akibat sakit keras, Bu Salamah mendadak menjadi tunggal penopang hidup. Tak ada warisan harta, tak ada tabungan tersisa—yang ditinggalkan suaminya hanyalah dua orang buah hati yang masih sangat kecil: Rizky (7 tahun) dan Aisyah (4 tahun).
  "Ibu, perut Aisyah bunyi..." lapor si kecil suatu pagi sambil memegangi perutnya.
 
Mendengar ucapan itu, hati Bu Salamah serasa diiris sembilu. Namun, ia menyapu air matanya dengan ujung kain lusuhnya dan tersenyum lembut.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi Ibu antar pakaian Bu RT. Nanti kita beli sarapan nasi uduk," bisiknya sambil memeluk erat kedua anaknya.
Perjuangan Tanpa Keluh Kesah
Setiap hari, Bu Salamah mengumpulkan ember demi ember pakaian kotor. Dari pagi hingga sore, jemarinya bergelut dengan deterjen tajam yang tak jarang membuat kulit tangannya terkelupas dan perih. Namun, bagi Bu Salamah, rasa perih di tangan tak ada artinya dibanding melihat piring anak-anaknya kosong.
Dari hasil buruh cuci yang tak seberapa—kadang Rp30.000 hingga Rp50.000 sehari—ia bagi dengan sangat teliti:
   Uang beras dan makan anak-anak (prioritas utama).
   Tabungan kecil untuk sekolah Rizky.
    Uang kontrakan rumah petak mereka.
Ada kalanya cucian sepi, dan Bu Salamah hanya sanggup membeli satu bungkus nasi dengan kuah dan sebutir telur rebus. Telur itu ia bagi dua untuk Rizky dan Aisyah. Saat anak-anaknya bertanya, "Ibu kok tidak makan?", Bu Salamah hanya tersenyum dan menjawab, "Ibu sudah kenyang tadi waktu nyuci."
Buah dari Kesabaran
Meski hidup dalam keterbatasan, Bu Salamah tak pernah mengajari anak-anaknya meminta-minta. Ia mengajari mereka untuk selalu bersyukur dan jujur. Rizky kecil tumbuh menjadi anak yang sangat pengertian. Tanpa diminta, ia sering membantu menjaga adiknya atau membantu menjemur pakaian yang ringan.
Suatu sore, saat menerima upah dari pelanggan, Bu Salamah memandangi kedua anaknya yang sedang tertawa bersama sambil bermain pesawat kertas dari dus bekas. Rasa lelah yang menumpuk di punggungnya seketika sirna.
Bagi Bu Salamah, setiap tetes keringat dan pedih di tangannya adalah mahar kasih sayang. Ia tahu perjalanan masih panjang, namun selama napas masih berhembus, ia akan terus berjuang agar anak-anaknya bisa makan, bersekolah, dan meraih masa depan yang lebih baik.
   
   Dari peluh seorang ibu, kita belajar bahwa kasih sayang tidak pernah menghitung lelah, dan keteguhan hati mampu menembus batas keterbatasan hidup.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KHILAF MUNGKIN KATA TERINDAH

SURAT YANG SALAH ALAMAT DAN SEPOTONG HARAPAN DI TOKO ROTI

SURGA YANG TAK NAMPAK