EMBUN PAGI DAN GEMERICING SEPEDA TUA

Krikil-krikil kecil di pinggir jalan desa mulai berderit saat roda sepeda ontel tua milik Pak Santoso berputar. Jam di dinding rumah sederhananya baru menunjukkan pukul empat pagi. Udara dingin khas pedesaan masih menusuk hingga ke tulang, namun Pak Santoso sudah rapi memakai jaket lusuh berwarna hijau pudar dan topi caping yang sudah sedikit robek di bagian pinggirnya.
Di belakang sepedanya, terikat dua keranjang bambu besar yang lapuk dimakan usia. Di dalam keranjang itu, belum ada apa-apa selain lembaran plastik bekas dan sebuah timbangan gantung tua.
"Pak, ini bekal teh hangat di botol. Hati-hati di jalan ya," suara Bu Sumi, istrinya, memecah keheningan dapur yang remang-remang.
Pak Santoso tersenyum, menyambut botol plastik berisi teh manis hangat itu. "Terima kasih, Bu. Semoga hari ini ada rezeki cukup untuk beli beras setengah kilo dan lauk untuk makan kita nanti sore."
Sederhana sekali harapannya. Pak Santoso tidak pernah bermimpi membeli baju baru, barang elektronik mahal, atau jalan-jalan ke kota. Bagi Pak Santoso dan istrinya, jika hari ini keranjang sayurnya habis dan bisa membawa pulang uang cukup untuk makan sehari, itu sudah merupakan kemenangan besar dari Tuhan.
Pasar Subuh dan Modal yang Apa Adanya
Pak Santoso mengayuh sepedanya sejauh tiga kilometer menuju pasar induk desa. Suara riuh para pedagang grosir dan aroma tanah basah bercampur sayuran segar menyambutnya. Di sana, Pak Santoso bukan membeli barang dalam jumlah berkarung-karung seperti pedagang besar lainnya. Modal uang di kantongnya pagi itu hanya ada beberapa puluh ribu rupiah—sisa rezeki kemarin yang dipotong untuk makan malam mereka.
Dengan teliti dan sabar, Pak Santoso memilih sayuran yang bisa ia beli dengan modal seadanya:
 * Tiga ikat bayam segar dan dua ikat kangkung yang daunnya masih hijau ranum.
 * Satu kantong plastik tempe potongan dan beberapa papan tahu putih.
 * Semangkuk kecil cabai rawit serta beberapa buah tomat yang agak sedikit memar—karena harganya jauh lebih murah dan sesuai dengan uang di dompetnya.
 * Tak lupa seikat terong dan sedikit tauge.
Sayuran-sayuran itu disusunnya dengan sangat rapi di dalam keranjang bambu. Bagi Pak Santoso, walau barang dagangannya tidak banyak dan sangat sederhana, kebersihan dan kerapian adalah bentuk penghormatannya kepada para pembeli.
Menyapa Pagi, Menjemput Rezeki
Matahari mulai menyingsing di ufuk timur ketika Pak Santoso membelah gang-gang sempit perumahan warga. Suara klakson terompet kecil di stang sepedanya berbunyi "Tet... tet..." diselingi teriakan khasnya yang ramah.
"Sayuurr... Sayur segar, Buu..."
Satu per satu pintu rumah warga terbuka. Ibu-ibu dengan daster memanggilnya dari kejauhan. Pak Santoso dengan sigap menepikan sepedanya, memasang standar dua, dan menyapa para langganannya dengan senyuman yang sangat tulus—senyuman yang menutup rapat-rapat rasa lelah di kakinya setelah mengayuh sepeda.
"Pak Santoso, bayamnya satu ikat berapa?" tanya Bu RT.
"Cuma tiga ribu rupiah saja, Bu. Masih segar baru ambil dari pasar subuh," jawabnya lembut.
Terjadi tawar-menawar kecil, hal yang sangat lumrah dalam kehidupan rakyat kecil. Kadang ada pembeli yang menawar hingga seribu rupiah. Pak Santoso jarang menolak jika penawaran itu masih masuk akal, sebab ia tahu, pembelinya pun orang-orang yang sedang berhemat untuk keluarganya.
"Ya sudah, ambil bayam satu, tempe satu ya Pak. Ini uangnya pas," kata Bu RT menyerahkan lembaran uang kertas yang agak lecek.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak Bu RT. Semoga berkah," tutur Pak Santoso sambil menyatukan kedua telapak tangannya di dada.
Perjuangan di Bawah Terik Siang
Waktu terus berjalan hingga menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sinar matahari yang tadinya hangat kini mulai menyengat kulit. Keringat mengucur deras dari dahi Pak Santoso, menetes ke atas caping bambunya.
Di dalam keranjangnya, dagangan tinggal tersisa sedikit: seikat kangkung yang mulai agak layu karena terkena panas, dan dua bungkus tahu. Uang di kantong celananya baru terkumpul sekitar empat puluh ribu rupiah.
Setelah dipotong modal untuk besok pagi, keuntungan bersih yang berada di tangannya hanya sekitar lima belas hingga dua puluh ribu rupiah.
Ia berhenti di bawah rindangnya pohon asam di pinggir jalan. Dibukanya sumbat botol teh hangat bawaan istrinya yang kini sudah berubah dingin. Ia meminumnya perlahan, merasakan rasa manis yang memberi sedikit tenaga pada tubuh tuanya.
Pak Santoso tahu, kangkung yang layu ini akan sulit dijual dengan harga normal. Namun ia tidak putus asa. Ia mengayuh sepedanya sedikit lebih jauh, menuju pemukiman di ujung jalan yang jarang dilalui pedagang lain.
"Sayur... kangkungnya Bu, murah saja..."
Seorang ibu tua keluar dari rumah papan sederhana. Melihat kangkung yang tersisa, ibu itu tersenyum ragu. "Masih ada kangkung Pak? Tapi uang saya cuma ada dua ribu rupiah..."
Pak Santoso melihat raut wajah ibu tua itu. Tanpa ragu sedikit pun, ia mengambil seikat kangkung dan sisa tahu putihnya, lalu membungkusnya jadi satu.
"Ini Bu, ambil semuanya. Dua ribu rupiah tidak apa-apa, buat lauk makan siang Ibu," kata Pak Santoso ramah.
Ibu tua itu terharu dan berkali-kali mengucapkan doa keselamatan untuk Pak Santoso. Saat itu, Pak Santoso sadar: jualan sayur keliling ini bukan hanya tentang mencari uang makan, tetapi juga tentang bagaimana menyambung kebaikan antar sesame manusia yang sama-sama sedang berjuang.
Pulang dengan Hati yang Lapang
Menjelang makan siang, keranjang bambu di belakang sepedanya sudah kosong melompong. Pak Santoso mengayuh sepedanya kembali ke rumah dengan perasaan legah yang luar biasa.
Tiba di rumah, Bu Sumi sudah menunggu di depan pintu. Pak Santoso menyerahkan kantong plastik berisi sisa uang keuntungan hari itu, ditambah setengah kilogram beras dan sepotong ikan asin yang sempat ia beli di warung dekat rumah.
"Alhamdulillah, Bu. Hari ini dagangan habis. Kita bisa makan siang dan malam ini, dan masih ada modal cukup untuk belanja besok subuh," ujar Pak Santoso sambil menyapu keringat di lehernya.
Istrinya tersenyum haru, menyajikan sepiring nasi hangat dengan sambal dan ikan asin goreng. Di atas tikar pandan yang sederhana, mereka berdua duduk berhadapan dan menikmati hidangan tersebut dengan nikmat yang tiada tara. Tidak ada keluhan, tidak ada rasa iri pada hidup orang lain yang lebih mewah.
Bagi Pak Santoso, kebahagiaan itu sederhana:
 * Ketika ia masih diberikan kesehatan dan kekuatan tubuh untuk mengayuh sepeda.
 * Ketika hasil keringatnya yang halal bisa memberi makan istrinya hari ini.
 * Dan ketika ia bisa tidur dengan nyenyak di malam hari tanpa merugikan atau meminta-minta kepada orang lain.
Semoga cerita singkat tentang Pak Santoso ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua, kawan. Bahwa di balik kesederhanaan dan rezeki yang tampaknya pas-pasan, ada ketulusan, rasa syukur, dan perjuangan yang sangat mulia.
Sehat selalu untuk Anda dan keluarga kawan!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KHILAF MUNGKIN KATA TERINDAH

SURAT YANG SALAH ALAMAT DAN SEPOTONG HARAPAN DI TOKO ROTI

SURGA YANG TAK NAMPAK